Blogger news

"Teknik Komputer dan Jaringan SMK Bisa !"

Praktikum XII SMK TJKT: Pemetaan dan Penggelaran Kabel FTTH dan Jaringan Metro


Pemetaan dan Penggelaran Kabel FTTH dan Jaringa

1. Pendahuluan: Urgensi Infrastruktur Fiber Optik

Sebagai calon tenaga ahli di bidang telekomunikasi, kalian harus memahami bahwa Fiber Optik adalah fondasi utama ekonomi digital saat ini. Infrastruktur ini terbagi secara strategis menjadi dua segmen: Jaringan Metro (Core/Backbone) yang bertugas mentransmisikan data berkapasitas besar antar pusat data atau kota, dan FTTH (Fiber to the Home/Access) yang menjadi ujung tombak layanan broadband langsung ke rumah pelanggan.

Perbedaan mendasar dalam pemilihan jenis serat sangat bergantung pada jarak dan kebutuhan transmisi:

  • Single Mode (SM): Menggunakan inti (core) yang sangat kecil sehingga cahaya merambat lurus (tanpa pantulan). Sangat ideal untuk jarak jauh (Metro/Backbone) dengan jangkauan mulai dari 30 km hingga mencapai 300 km.
  • Multi Mode (MM): Memiliki diameter inti yang lebih besar, memungkinkan cahaya merambat dengan memantul. Efektif untuk jarak pendek (LAN) dengan jangkauan maksimal 200 meter hingga 30 km untuk tipe graded index.

Praktikum ini dirancang untuk membekali kalian dengan kompetensi teknis yang relevan dengan standar industri, mulai dari pemahaman fisik hingga metode penggelaran di lapangan.

2. Dasar Teori: Konstruksi dan Klasifikasi Kabel

Struktur fisik kabel serat optik dirancang untuk melindungi transmisi cahaya dari gangguan eksternal. Sesuai dengan konstruksi dasar dan susunan fisik serat optik, konstruksi utamanya terdiri dari:

  1. Core (Inti): Media kaca tempat cahaya merambat dengan indeks bias tinggi.
  2. Cladding: Lapisan kaca yang mengelilingi inti dengan indeks bias lebih rendah untuk menjaga cahaya tetap di dalam inti melalui refleksi internal total.
  3. Coating/Buffer: Lapisan plastik untuk fleksibilitas dan identifikasi warna.

Berikut adalah spesifikasi teknis mendalam berdasarkan standar industri:

Parameter

Single Mode (SM)

Multi Mode Step Index (MM SI)

Multi Mode Graded Index (MM GI)

Diameter Core/Cladding

7-10 / 125 µm

85-100 / 125-140 µm

50-62.5 / 125 µm

Jendela Gelombang

1310 nm & 1550 nm

850 nm

850 nm

Pantulan Cahaya

Lurus (Tanpa Pantulan)

Patah (Step)

Melengkung (Graded)

Jarak Maksimum

> 30 km s.d 300 km

s.d 200 meter

s.d 30 km

Standar ITU-T

G.652 (Backbone)

G.651

G.651

Penting untuk FTTH: Untuk jaringan akses (FTTH), industri menggunakan standar ITU-T G.657. Keunggulan utama G.657 adalah ketahanan terhadap low macro-bending loss, yang memungkinkan kabel ditekuk dengan radius kecil tanpa menyebabkan redaman sinyal yang signifikan—suatu kebutuhan mutlak saat instalasi di dalam rumah pelanggan yang memiliki banyak sudut ruangan .

3. Identifikasi Standar Kode Warna Serat Optik

Dalam manajemen jaringan kabel berkapasitas besar, penguasaan kode warna adalah harga mati bagi seorang Engineer. Standar internasional menggunakan urutan 12 warna dasar untuk identifikasi serat:

  • 1. Biru
  • 2. Oranye
  • 3. Hijau
  • 4. Cokelat
  • 5. Abu-abu
  • 6. Putih
  • 7. Merah
  • 8. Hitam
  • 9. Kuning
  • 10. Violet
  • 11. Pink
  • 12. Toska

Konsep Loose Tube dan Skala Kapasitas: Kabel optik modern umumnya menggunakan desain Loose Tube (serat berada longgar di dalam tabung berisi jelly). Sebagai teknisi senior, kalian harus mampu menghitung kapasitas kabel secara cepat. Contoh:

  • Kabel 12F/2T berarti terdiri dari 2 Tube (Biru dan Oranye), di mana setiap tube berisi 6 serat optik .
  • Kabel 144F terdiri dari 12 Tube, di mana setiap tube berisi 12 serat optik (12 x 12 = 144) .

4. Metode Penggelaran Kabel (Gelar Kabel)

Pemilihan metode instalasi sangat bergantung pada lingkungan rute jaringan. Berikut adalah parameter teknis yang wajib dipatuhi:

  • Kabel Udara (Aerial): Menggunakan tiang sebagai tumpuan.
    • Tiang T-7 (7m): Digunakan untuk jaringan akses rumah dengan jarak antar tiang maksimal 50m. Kedalaman tanam adalah 1/5 panjang tiang (140 cm).
    • Tiang T-9 (9m): Untuk menyeberang jalan raya dengan jarak maksimal 70m.
    • Tiang T-12 (12m): Untuk melintasi sungai atau rel kereta (> 50m).
    • Tipe Kabel: Digunakan kabel ADSS (All Dielectric Self Supporting) yang bebas logam sehingga aman di dekat jaringan listrik, atau kabel SS (Self Supporting) dengan penguat baja.
  • Kabel Tanah Tanam Langsung (Direct Buried): Kabel ditanam pada kedalaman > 110 cm. Setelah kabel diletakkan dan dilapisi pasir, wajib dipasang "Capstone" atau Marker Tape (plastik oranye) sebagai penanda jalur agar kabel tidak rusak saat ada penggalian di masa depan.
  • Kabel Duct: Kabel ditarik melalui pipa PVC diameter 4 inci yang di dalamnya terdapat sub-duct HDPE.
    • Jarak maksimal antar Manhole adalah 250m.
    • Terdapat 4 tipe Manhole berdasarkan rute: Tipe S (Lurus), Tipe L (Siku), Tipe T (Pertigaan), dan Tipe X (Perempatan).
  • Kabel Dropp & Indoor: Digunakan untuk terminasi pelanggan. Fokus utama pada penggunaan kabel G.657 untuk mengatasi tikungan tajam (macro-bending) di dalam bangunan.

5. Persiapan Alat dan Bahan Praktikum

Berdasarkan standar prosedur kerja Fber Optik, siapkan peralatan berikut:

Alat Utama (Tools):

  • Pipe Cutter: Alat utama untuk membuat keratan melingkar pada jacket luar kabel.
  • Cable Sheath Cutter: Untuk membelah kulit kabel secara memanjang jika benang pengupas tidak ditemukan.
  • Obeng Sedang Panjang 10 Inci: Untuk membantu menarik rip cord.
  • Kunci Pass (Ukuran 8 s/d 16): Untuk pemasangan baut pada klem tiang.
  • Meteran & Gergaji Besi: Untuk pengukuran dan pemotongan elemen penguat.
  • APD (Alat Pelindung Diri): Helm, Sepatu Boot, dan Sarung Tangan Wool.

Bahan:

  • Bensin/Thinner & Lap Majun: Pembersih jelly (Gell Filled) agar serat bersih sebelum proses splicing.

6. Langkah Kerja: Penanganan dan Pengupasan Kabel

Lakukan langkah pengupasan dengan presisi untuk menghindari micro-bending (kerusakan internal kaca) atau patahnya serat:

  1. Pembersihan: Bersihkan bagian luar kabel dari kotoran/jelly menggunakan bensin dan lap majun.
  2. Pengeratan: Ukur sepanjang 120 cm dari ujung kabel. Gunakan pipe cutter untuk membuat keratan melingkar pada PE Jacket. Pastikan mata pisau tidak menembus tube .
  3. Pengupasan Jacket: Tarik benang pengupas (Rip Cord) berwarna kuning dengan bantuan obeng hingga PE Jacket terbelah sepanjang 120 cm .
  4. Penanganan Komponen Dalam:
    • Potong lapisan Aramid Yarn (benang penguat kuning).
    • Potong Strength Member (batang penguat pusat) dengan menyisakan tepat 10 cm sebagai pegangan pada closure atau terminal box .
  5. Pembersihan Fiber: Bersihkan loose tube dari sisa jelly menggunakan bensin hingga kering.
  6. Peringatan Teknis: Selama penanganan, hindari tekukan tajam yang melampaui batas bending radius kabel untuk mencegah kegagalan transmisi (referensi standar G.657) .

7. Kesimpulan dan Refleksi Praktikum

Kemampuan memetakan kode warna dan mengaplikasikan metode penggelaran yang tepat adalah pembeda antara teknisi amatir dan profesional. Melalui praktikum ini, kalian telah mempelajari bahwa setiap spesifikasi—mulai dari kedalaman tanam 110 cm, jarak tiang 50m, hingga penggunaan standar G.657 untuk FTTH—dibuat untuk memastikan reliabilitas jaringan.

Pahami bahwa kesalahan kecil dalam pengupasan atau pengabaian terhadap macro-bending dapat berakibat fatal pada kualitas sinyal pelanggan. Teruslah asah ketelitian dan patuhi prosedur K3 dalam setiap tahap penggelaran kabel optik.

Berlangganan info dari kami silahkan masukan email anda:

0 Response to "Praktikum XII SMK TJKT: Pemetaan dan Penggelaran Kabel FTTH dan Jaringan Metro"

Posting Komentar